Tingkatan-tingkatan (hirarki) keyakinan

Pada penjelasan sebelumnya telah diterangkan bahawa iman atau keyakinan adalah sebuah  cahaya yang bersemayam di dalam hati (qolbu/nafs). Sifat dari cahaya adalah sesuatu yang menerangi dan mampu menembus kegelapan. Demikian pula dengan cahaya iman, ia mampu menerangi dan memiliki kekuatan untuk menembus dan menyingkap tirai-tirai (hijab-hijab) kegelapan yang menyelimuti diri dan kehidupan manusia, sehingga dengan cahaya iman itu ia mampu menyaksikan hakikatt Al-Haq (Allah swt).

Cahaya iman adalah cahaya yang akan menerangi (menyinari) manusia dalam menjalani kehidupannya dialam dunia. Orang yang beriman adalah orang yang memiliki cahaya dalam jiwannya. Seperti orang yang berada didalam sebuah ruangan yang bercahaya. Segala sesuatu yang ia lihat akan nampak dengan jelas. Cahaya keimanan bias menjelaskan segala sesuatu, termasuk hal-hal yang samara dan kecil sekalipun. Cahaya iman juga mampu menembus dan menjangkau sesuatu dibalik setiap fenomena (keadaan, kejadian). Dengan cahaya ini seseorang  dapat memandang hakikat segala sesuatu dengan benar. Ia dapat memaknai arti dari kehidupannya. Ia akan sadar terhadap tujuan hakiki dari keberadaannya, ia juga tahu sedang dimana ia berada dan harus bagaimana melangkah. Dengan cahaya itu ia dpat berjalan dengan arah dan tujuan yang pasti. Memahami apa yang baik dan buruk bagi dirinya, mana yang harus diutamakan dan mana yang harus diakhirkan. Cahaya iman ini memberi energi kekuatan sehingga seseorang mampu bergerak dan melangkah kakinya sesuai petunjuk dari cahaya tersebut (lihat Qs. 6:122).

Berbeda dengan orang yang tidak memiliki cahaya didalam hidupnya. Seperti orang yang beara didalam  ruangan yang gelap tanpa cahaya, tidak ada yang bias dilihat kecuali kegelapan itu sendiri. Semuanya tampak sama dan gelap. Tidak ada cahaya yang bias menerangi pandangannya sehingga  ia dapat melihat dan berjalan dengan benar. Tidak ada petunjuk yang memberi arah dan panduan dalam setiap tingkah lakunya. Ia pun tidak paham sedang dimana ia berada, dan harus bagaimana hidup ini harus dijalankan. Ia tidak akan memahami haq dan bathil dari setiap perbuatannya. Tidak pula memahami mana jalan yang bias membawanya kepada hakikat keselamatan dan kebahagiaan (baik di dunia maupun di akhirat). Hidup tanpa chaya keimanan adalah hidup dalam kesesatan. Sebagaimana firman Allah, “barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, tiadalah ia memperoleh cahaya sedikitpun” (Qs.24:40)

Adapun hijab-hijab yang bias menghalangi dan menutupi cahaya iman (keyakinan) adalah alam duni dan segala struktur yang ada didalamnya. Alam duni ini meliputi segala sesuatu yang melingkupi keberadaan manusia, baik dunia fisik maupun non fisik. Yang dimaksud duni fisik adalah dunia materi, seperti system dan struktur  fisik alam bumi ini hingga struktur fisik jasmani manusia. Setiap manusia tidak bias melepaskan diri dari dunia fisik 9materi) yang melingkupi keberadaannya. Dan setiap manusia memiliki kecintaan terhadap dunia (fisik) materi tersebut, seperti rasa senang terhadap harta, makanan dan minuman, anak, istri, kendaraan, serta benda-benda lainnya (Qs.3:14). Sedangkan yang dimaksud dunia non fisik adlaah lingkungan dan system social masyarakat yang mengikat kehidupan seseorang, seperti struktur keluarga, struktur masyarakat, dan lembaga-lembaga sosial lainnya, serta segala system nilai, norma dan aturan hukum yang berlaku didalam masyarakat tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: