Ma’rifah adalah tahap awal berdinul Islam

Bagi seorang mu’min hakikat kehidupan pada dasarnya adalah dalam rangka membangun kesempurnaan Iman (Aqidah Tauhid). Wujud dari keimanan adalah meyakini bahwa “tidak ada ilah kecuali Allah (lailahaillallah)”, yakni menjadikan Allah sebagai satu-satunya dzat yang wajib di ibadahi, serta menafikan ilah-ilah selain Allah swt. “laailaahaillallah” adalah kalimah thoyibah atau qoulu tsabit, yang dengannya Allah meneguhkan orang-orang yang beriman. Sebagaimana dalam firman Allah swt

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang dia kehendaki” (Qs.Ibrahim:27)

Laailaahaillallah adalah pokok pangkal serta tujuan sikap tauhid seseorang, hal ini berdasarkan firman Allah swt;

“Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal”(Qs. Muhammad :19)

Ayat ini memerintahkan kepada manusia untuk mengimani bahwa tidak ada ilah yang wajib dicari (pinta), dimaksud,  ibadah serta diperoleh (maujud) kecuali Allah. Kesempurnaan iman (Aqidah) tersebut adalah tujuan puncak dari proses kehidupan manusia yang mesti dibangun secara berproses dan bertahap.

Dalam proses pembinaan dan pembangunan keimanan ( Aqidah tauhid) in terdapat beberapa tahapan yang harus dijalani oleh seseorang, dari mulai tahap/tingkatan awal hingga menuju kepada puncak dari kesempurnaan iman. Kata “fa’lam” dalam ayat tersebut merupakan tangga yang akan menjadi wasilah untuk mencapai tujuan tersebut. Adapun tahapan pertama yang harus dilakukan dalam pembinaan aqidah (keimanan) ini adalah ma’rifatullah, yakni mengenal Allah dengan penuh keyakinan. Sebagaimana ditegaskan dalam qoul ‘ulama: Kewajiban pertama pada diri manusia adalah mengenal Allah dengan keyakinan. Yang pertama kali dalam ber Din Islam adalah mengenal Allah (ma’rifatullah).

Ma’rifah adalah kewajiban pertama setiap manusia. Karena seseorang tidak akan mampu memahami hakikat dan makna dari kehidupannya dengan benar (haq) jika tidak mengenal siapa Rabb-nya. Dan orang yang tidak mengenal Rabb-nya, maka ia tidak akan pula mengenal eksistensi dirinya, dan konsekuensi bagi orang yang tidak mengenal eksistensi dirinya maka akan tersesat jalan hidupnya. Artinya ia terasing dari makna dan tujuan hidup yang sebenarnya, sehingga ia kan menjalani hidupnya sebagai sesuatu kebetulan dan mengalir begitu saja. Ia bersikap tidak peduli terhadap sistem kehidupan dimana ia berada, apakah benar atau salah, apakah akan memberinya kebahagiaan dan kesalamatan atau kesengsaraan dan kenistaan, singkatnya dia menjalani hidup karena tidak mati.

Kehidupan yang bermakna dan memiliki tujuan yang jelas kebenarannya bisa dilihat dan dibuktikan dalam system dan tatanan kehidupan yang dijalani dan mengikatnya. Islam dengan aqidah Tauhid nya merupakan satu-satunya system dan tatanan kehidupan yang benar di sisi Allah yang akan menghantarkan seseorang kepada makna  dan tujuan hidupnya yang sebenarnya (haq). Dengan demikian, untuk memasuki dan menjalani Islam seseorang mengawalinya dari proses pengenalan (ma’rifah) terhadap eksistensi dirinya, sehingga terdapat kesesuaian antara tujuan hidupnya dengan Din Islam sebagai sarana dan tujuan hidup yang sebenarnya.

Seseorang tidak dapat ber din Islam dengan benar dan teguh tanpa dilandasi proses ma’rifah terlebih dahulu. Walaupun dalam prakteknya bisa saja seseorang menjalankan keislaman tanpa di dasari ma’rifah, namun praktek  keislaman seperti ini adalah sesuatu yang rapuh dan tidak memiliki dasar serta akar yang kuat dalam diri orang tersebut. Karena ke islamannya tidak lahir dan dibangun dari dasar keyakinan (iman) yang kuat dalam diri, tetapi didasarkan (disandarkan) pada tradisi dan nilai-nilai yang sudah berlaku dan mengakar dalam kehidupan masyarakatnya.

Melalui ma’rifah  ini seseorang akan memahami, mengenali dan menyadari tentang eksistensi Allah swt dan dirinya sendiri, dan ma’rifah tersebut maka akan terbangun sebuah keyakinan/keimanan dalam dirinya. Keimanan/keyakinan hanya akan lahir dan tumbuh dengan baik dan teguh dalam diri seseorang jika di awali melalui tahapan ma’rifah. Oleh karena itu tidak mungkin seseorang dapat iman kepada Allah jika ia tidak mengenal eksistensi Allah tersebut. Melalui tahapan ma’rifah akan melahirkan keimanan yang akan melandasi keislaman seseorang secara benar (haq) dan utuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: