Benarkah kita harus mentaati pemerintah?

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu adalah yang terbaik untuk kalian dan paling bagus dampaknya.” (QS. an-Nisaa’: 59)

  1. Ada perbedaan dalam menafsirkan ma’na ulil amri. Dari abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sebagaimana diriwayatakan oleh ibnu Jarir ath-Thobari dengan sanad sahih. Beliau berkata yaitu “Ulil amri ialah para pemimpin/pemerintah. Didalam kitab fath al –Bari;8/106(pdf) “maksud dari ulil amri adalah para pemimpin pemerintah“.
  2. Wajibnya menaati pemerintah muslim selama bukan dalam rangka maksiat. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau bersabda, “Wajib atasmu untuk mendengar dan taat, dalam kondisi susah maupun mudah, dalam keadaan semangat ataupun dalam keadaan tidak menyenangkan, atau bahkan ketika mereka itu lebih mengutamakan kepentingan diri mereka di atas kepentinganmu.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/469])
  3. Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atas setiap individu muslim untuk selalu mendengar dan patuh dalam apa yang dia sukai ataupun yang tidak disukainya, kecuali apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat. Maka apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh patuh.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/470]). Demikian juga hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada ketaatan dalam rangka bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/471])
  4. Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kecuali apabila kalian melihat kekafiran yang nyata dan kalian memiliki bukti kuat dari sisi Allah atas kesalahannya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/473]). al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ‘kalian memiliki bukti kuat dari sisi Allah atas kesalahannya itu’ adalah adanya dalil tegas dari ayat atau hadits sahih yang tidak menerima ta’wil. Konsekuensinya, tidak boleh memberontak kepada mereka apabila perbuatan mereka itu masih mengandung kemungkinan ta’wil.” (Fath al-Bari [13/10]).
  5. ‘Iyadh bin bin Ghunm radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa maka janganlah dia menampak hal itu secara terang-terangan/di muka umum, akan tetapi hendaknya dia memegang tangannya seraya menyendiri bersamanya -lalu menasehatinya secara sembunyi-. Apabila dia menerima nasehatnya maka itulah -yang diharapkan-, dan apabila dia tidak mau maka sesungguhnya dia telah menunaikan kewajiban dirinya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim dengan sanad sahih, lihat al-Ma’lum, hal. 23,
  6. Dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada para pemimpin/penguasa setelahku yang mengikuti petunjuk bukan dengan petunjukku dan menjalankan sunnah namun bukan sunnahku. Dan akan ada di antara mereka orang-orang yang memiliki hati laksana hati syaitan yang bersemayam di dalam raga manusia.” Maka Hudzaifah pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kulakukan jika aku menjumpainya?” Beliau menjawab, “Kamu harus tetap mendengar dan taat kepada pemimpin itu, walaupun punggungmu harus dipukul dan hartamu diambil. Tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/480]). Dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan muncul para penguasa yang kalian mengenali mereka namun kalian mengingkari -kekeliruan mereka-. Barangsiapa yang mengetahuinya maka harus berlepas diri -dengan hatinya- dari kemungkaran itu. Dan barangsiapa yang mengingkarinya -minimal dengan hatinya, pent- maka dia akan selamat. Akan tetapi yang berdosa adalah orang yang meridhainya dan tetap menuruti kekeliruannya.” Mereka -para sahabat- bertanya, Apakah tidak sebaiknya kami memerangi mereka?. Maka beliau menjawab, “Jangan, selama mereka masih menjalankan sholat.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/485]). Faedah: an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa orang yang tidak mampu melenyapkan kemungkaran tidak berdosa semata-mata karena dia tinggal diam, akan tetapi yang berdosa adalah apabila dia meridhai kemungkaran itu atau tidak membencinya dengan hatinya, atau dia justru mengikuti kemungkarannya.” (Syarh Muslim [6/485])

Haruskah kita mentaati pemerintah???

Berawal kita lahir di sebuah Negara yang tatanan hukumnya tidak berdasarkan Al-Qur’an dan Assunnah. Bahkan orang tua terdahulu yang tinggal di Negara ini tidak berhukum Islam. Padahal Allah swt dan RasulNya mewajibkan berhukum Islam (Al-Qur’an dan Assunnah). Allah swt. Berfirman;

“barangsiapa yang kafir sesudah beriman (Tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi”. (Qs. Al-Maidah:5

” menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. dia menerangkan yang Sebenarnya dan dia pemberi Keputusan yang paling baik”. (Qs.Al’anam:57)

“Sebagai suatu sunnatullah[hukum Allah] yang Telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan peubahan bagi sunnatullah itu” (Qs.AlFath:23).

Dari berbagai firman Allah swt.  hukum Islam diwajibkan dalam tatanan hidup ber Negara maupun fil ardh. Jika kita memvonis orang islam yang tidak menggunakan hukum islam memang dapat dikatakan kafir jika ia menolak  hukum Allah. Sebagaimana dalam firman Allah swt;

” Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (Qs. Almaidah:50)

“barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Qs.Almaidah:44)

Akan tetapi jika ia tidak menolak dengan hukum Allah dan ia berjuang untuk menegakannya, maka ia tidak divonis sebagai orang kafir, tapi ia adalah seorang mujahid. Sebagai seorang muslim yang yakin akan kebenaran Allah swt dan Rasullnya kita wajib memvonis mereka sebagai orang kafir yang tidak beriman kepada kitabullah wa sunnaturasul, jika masih ragu memvonis mereka sebagai orang kafir yg tidak beriman kepada Allah swt dan RasulNya maka iman kita dipertanyakan kembali.

TIDAK DIBENARKAN BAHWA DIDALAM SEBUAH NEGERI YANG TIDAK BERHUKUM ISLAM PENDUDUKNYA  KAFIR. INI ADALAH PEMAHAMAN YANG SALAH DAN SESAT.

Yang dimaksud dengan berhukum dengan selain hukum Allah yang dihukumi kafir dan murtadsehingga layak untuk disebut sebagai thaghut:

  1. Mengambil sebagian hukum( hukum Allah dan hukum buatan manusia) dicampur adukan

Dalam hal ini perlu dipahami bahawa mengambil bagian dari hukum Al-Qur’an  dan mencampur adukan dengan hukum buatan manusia dapat dikatakan kafir bahkan lebih dari kafir. Dapat dilihat di Qur’an surat An-Nisa :150-151:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakanantara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir).Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. kami Telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan”.

  1. Apabila dia meyakini bahwa selain hukum Allah itu sama saja (sama baiknya) dengan hukum Allah

” Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (Qs. Almaidah:50)

  1. Apabila dia meyakini bahwa selain hukum Allah lebih bagus daripada hukum Allah

PENJELASAN TENTANG PEMERINTAH

Sebagai kaum muslim yang beriman tentunya taat kepada pemerintah.  hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atas setiap individu muslim untuk selalu mendengar dan patuh dalam apa yang dia sukai ataupun yang tidak disukainya, kecuali apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat. Maka apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh patuh.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/470]).

RASULULLAH MEWAJIBKAN KITA UNTUK MENTAATI PEMIMPIN WALAUPUN KITA TIDAK MENYUKAI KECUALI DIA MEMERINTAHKAN DALAM HAL MAKSIAT.

Perlu dipahami bahawa mentaati ulil amri/pemimpin adalah wajib. Dapat diperhatikan bahwa ulil amri/pemimpin/pemerintah dalam hal ini yang menggunakan hukum islam. Jika pemimpin tidak menggunakan hukum islam kita wajib untuk tidak mentaatinya walaupun pemimpin itu shalat, zakat, puasa, dan hajji. Akan tetapi dia tidak memerintahkan kenegaraannya atau hukumnya tidak berlandaskan hukum islam maka wajib kita mengingkarinya tidak taat kepada pemerintah. Karena secara aqidah telah mengingkari hukum Allah swt.

Untuk memperjelas pembahasan ini kita dapat memahami kembali sejarah Rasulullah. Dulu Muhammad bin Abdillah setelah diutusnya menjadi Rasul telah hijrah (aqidah) tidak taat kepada kaum quraisy. Saat itu dahulu abu Jahal shalat, puasa, zakat, dan hajji. Bahkan ibadahnya dekat dengan ka’bah, namun ia menolak Risalah Muhammad rasulullah, tidak mau menerima hukum Allah. Tetap dikatakan sebagai orang kafir. lebih jelasnya lihat artikel —https://elkhafi.wordpress.com/2010/06/28/sebab-terjadinya-fathu-makkah/#more-193

Sama halnya dengan pemerintah sekarang, pemimpin yang suka shalat, puasa, zakat dan hajji namun mengingkari hukum Allah swt. Jangan berdalih bahwa Pancasila sesuai dengan Al-Qur’an. Pancasila adalah patung garuda yang sering kita lihat di berbagai kantor bahkan thoghut itu ada dimana-mana. Walaupun tidak secara langsung menyembah padahal pada hakikatnya menyembah/meyakini pancasila.

kita harus berpikir benar-benar bahwa hukum pemerintah sekarang adalah thoghut yang tidak berhukum islam. Kita pernah mendengar bahwa pemerintah sekarang mewajibkan shalat, zakat, puasa, dan hajji. Bukankah itu dari Al-Qur’an? Ya, benar itu dari Al-Qur’an! sebaliknya, jika seandainya ada orang islam tidak shalat harus bagaimana? Diamkan saja? Siapa yang berdosa? Mana hukumnya bagi yang tidak shalat? Bukankah harus di bunuh jika ia mengingkari shalat dan tidak mau bertobat? Masih banyak sekali hukum-hukum Allah yang di ingkari oleh pemerintah ini.

INGAT WAHAI KAUM MUSLIMIIN KEBENARAN ITU ADA PADA ALLAH DAN RASULUNYA, BUKAN DARI MANUSIA.

Perlu di ingat kembali bahwa  hukum Allah tidak boleh dicampur adukan dengan hukum buatan manusia. Mengambil sebagian ini sebagian itu yang dirasa mudah saja. Pemerintah sekarang tidak memakai hukum islam. Perhatikan dalam UUD Indonesia adakah hukum yg tidak shalat? mencuri, zina, membunuh. Adakah yang menghukuminya secara syar’i?  lihat firman Allah swt.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir).Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. kami Telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan”.

Sangat dzolim sekali pemerintah sekarang mereka beraninya melanggar sunnatullah. Siapakah yang berdosa? Tentunya yang memilihnya sebagai pemimpin. Secara logika mengapa kita memilih pemimpin yang tidak mau menegakan hukum islam. Apakah kita pernah melihat calon-calon pemimpin diberbagai spanduk dan lainnya adakah visi-misi nya dalam menegakan hukum Allah, tentunya tidak ada. Mereka itulah orang-orang munafik.

Mereka bersumpah di atas nama Allah  dengan memakai Alquran diatas kepalanya. Tapi isi Al-Qur’an tidak mau mengamalkannya. Mengadakan musabaqoh tilawatil qur’an dikasih hadiah namun menegakan isinya malah diperangi.

KESIMPULAN

Bahawasanya dalam penjelasan yang cukup ringkas ini Mudah-mudahan Allah membenarkan kebanaran yang haq dan merahmati bagi kami.

Wahai kaum muslimiin…

Telah jelas haq adalah haq, bathil adalah bathil. Bahwa pemerintahan ini berdasarkan tatanan hukum thoghut. Hukum UUD tidak  dari Al-Qur’an maupun Assunnah. UUD adalah buatan manusia yang disaduri dari hukum belanda. Kita harus memahami sejarah Indonesia yang sebenarnya jangan melalui mulut kemulut. Tidak ada orang yang duduk-duduk mencalonkan dirinya dalam parlementer untuk menegakan hukum islam mereka adalah orang munafik yang cinta kedudukan jabatan dan harta. Walaupun ada yang demikian itu bukan cara sikap Rasululullah.  Pemerintah sekarang  dan bawahannya dihati mereka untuk meneruskan hukum thoghut.

KITA WAJIB MENGINGKARI PEMERINTAHAN MEREKA YANG JAUH DARI AL-QUR’AN DAN ASSUNAH.

Penulis tidak men tafkirkan orang islam kecuali orang tersebut meyakini dan mempercayai hukum pancasila (buatan manusia), mengambil sebagian dari Al-Qur’an dan mencampur adukan dengan hukum buatan manusia, yang menganggap baik hukumnya dari pada hukum Allah. Sudah jelas keterangan ini dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Wa Allahu ‘alam bishowab.

artikel ini sebagai bantahan “mengapa mudah mengkafirkan pemerintah?” dari situs: muslim.or.id


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: