Daullah menurut tinjauan Aqidah Tauhid

a. pengertian dan ruang lingkup Aqidah Tauhid

Aqidah mengandung arti keyakinan/ keimanan yang tertanam dalam bathin dan dibuktikan alam bentuk tindakan lahiriyah (tasdiq biqolbi, irar billisan wa qobul bilarkan). Keyakinan ini berfungsi sebagai ikatan yang mendasari setiap aktivitas hidup manusia. Sedangkan tauhid adalah mengesakan, Mulkiyah dan Uluhiyah_Nya (Qs. 1:1-4)

Artinya : Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari Pembalasan.

(Qs. 114:1-3)

Artinya : Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia”.

(Qs. 39:6)

Artinya :  Dia menciptakan kamu dari seorang diri Kemudian dia jadikan daripadanya isterinya dan dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain Dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?”

Keyakinan terhadap hakikat eksistensi Alloh tidak hanya dalam dimensi takwini semata, tetapi harus terwuju dalam kehidupan syar’I . kaena yang menjadi focus dalam aqidah tauhid ini sesungguhnya adalah pada ruang lingkup syar’I, sehingga kesadaran terhadap hakikat takwiniyah Allah harus mewujud kedalam bentuk kehidupan praktis manusia. Sehingga tidak ada pemisahan antara realitas hidup yang dijalani dengan prinsip-prinsip dari ke esa an Allah tersebut. Oleh karena itu tidak ada pemisahan dan pemilihan antara eksistensi manusia  dengan eksistensi  Allah SWT. Deikian halnya dalam konteks Negara, tidak terpisah antara Negara sebagai kerajaan manusia di bumi dengan eksistensi Allah sebagai pemilik seluruh kerajaan. Karena  Negara bukan terbentuk dari, oleh dan untuk manusia (ummat), melainkan semua itu bersumber dan ditujukan hanya untuk Allah semata.

Yang dimaksud Aqidah Tauhid Rububiyah adalah meyakini eksistensi Allah sebagai Rabb yang menciptakan (Al kholiq), mengatur, menguasai dan memelihara (mudabbir), sumber dan pemberi rizki (Arrozak), pendidik (Murobby), pemilik (Maalik/Al-Milki), dan tuan (sayid) bagi manusia dan seluruh makhluk. Adapun  menaifestasi syar’I dan Rububiyah Allah, ini adalah syari’ah islamiyah. Syari;ah merupakan bentuk pengaturan, pengurusan dan pemeliharaan Allah dalam khidupan syar’I manusia. Demikian wujud aplikatif dan tauhid tububiyah adalah menjadikan syari’ah islamiyah sebagai satu-satunya aturan hukum  yang mesti ditaati, serta menafikan segala sumber dan produk hukum yang keluar atau menyimpang darinya. Menjadikan syari’ah sebagai sumber dan tujuan hukum berarti menjadikan Allah SWT sebagai pemegang supremasi hukum tertinggi yang berhak mengatur dan mengurus kehidupan ini.

Sedangkan tauhid mulkiyah yakni menjadikan Allah sebagai satu-satunya raja, penguasa dan pemilik kedaulatan atas manusia. Allah adalah Al Malik (penguasa, Raja, pemilik kaedaulatan), yang kekuasaan-Nya bersifat mutlak, absolute dan meliputi seluruh makhluk (Qs.3:2, 36:83, 5:17-18, 2:107).

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya” (Qs.3:2 )

“Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (Qs.36:83)

“Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika dia hendak membinasakan Al masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?”. kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami Ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka Mengapa Allah menyiksa kamu Karena dosa-dosamu?” (kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. dan kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu)” (Qs. 5:17-18)

“Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.” (Qs. 2:107).

Dialah Rabb yang memiliki kerajaan yang ditangan_nya kekuasaan atas segala sesuatu (Qs.36:83) Raja manusia (Qs.114:2), raja yang menguasai hari pembalasan (Qs.1:4), raja yang Maha Suci (Qs.59:23). Allah adalah raja yang haq (qs.23:116), tiada serikat terhadap kerajaan-Nya (Qs.17:111) (Qs.25:2).

Kemulkiyaha an Allah didasarkan pada eksistensinya sebagai Rabb. Jika Allah adalah mencipta, mengatur, mengurus dan memelihara, mendidik, dan pemilik dari alam semesta, maka Dia pula yang berhak menjadi penguasa, Raja, Pemilik kedaulatan atas kehidupan makhlukNya. Konsekuensinya, segala sesuatu diluar Allah adalah alam, dan alam adalah makhluk, dan sebagai makhluk tidak memiliki alas an dan dasar sedikitpun untuk mengklaim dirinya sebagai penguasa/raja yang berhak ditaati.

Sedangkan tauhid Uluhiyah adalah meyakini Alloh sebagai satu-satunya ilah yang wajib dicari/dipinta, dimaksud dan dituju, yang disembah, dan tidak ada seseuatu yang maujud (diperoleh/didapat) dalam kehidupan ini kecuali Allah Swt. (Qs.2:207,) (Qs.48:29) (Qs.3:83) (Qs.28:88). Manfisetasi dari Tauhid uluhiyah adalah ibadah kepada Allah dengan sempurna-sempurnanya pengabdian.

Eksistensi Allah sebagi Rabb dan Malik menjadi dasar dari uluhiyah_nya. Allah adalah ilah manusia, tiada ilah selain Allah. Manusia hanya diperintah mengabdi kepadaNya dan tidak menyekutukan sengan sesuatu apapun juga (Qs.17:23) (Qs.4:36) (Qs16:36) sehingga tidak adanya Dzat yang berhak dan pantas disembah oleh manusia kecuali Allah. Dan beribadah kepada Allah adalah bukti dari kesadaran (keyakinan) terhadap eksistensi Allah tersebut. Proses ibadah ini hanya dapat terlaksana denan sempurna apabila dilandasi dengan berlakunya struktur Islam (mulkiyah) dan tegaknya syari’ah Islam. Sehingga praktek ibadah kepada Allah dijalankan melalui mekanisme ketaatan yang jelas aturan dan arah tujuannya. Karena ibadah bukan suatu paktek pengabdian yang bebas tanpa aturan, melainkan praktek amal hanya dapat bernilai sebagai amal sholeh jika ia dijalankan secara terpimpin dibawah suatu kepemimpinan serta aturan hukum yang benar.

b. Daulah Islamiyah sebagai implementasi Aqidah tauhid dalam konteks social-politik

Sebagaimana diterangkan diatas bahwa kekuasaan mutlak dan absolut Allah tidak hanya meliputi kerajaan di langit tetapi juga di bumi (Qs.17:111). Allah lah yang memiliki kerajaan di langit dan dibumi yang memberikan kekuasaanNya itu kepada siapa saja yang dikehendakin, serta mencabutnya sesuai dengan kehendakNya pula (Qs.3:26) (Qs.2:247) .

“Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Qs.3:26)

Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa kemilikan semua kerajaan di langit dan di bumi adalah hak mutlak Allah. Sebagai pemilik kekuasaan maka Dia pula yang Maha berhak untuk memberikan (melimpahkan) kekuasaan tersebut kepada ummat yang dikehendakiNya, dan Dia pula yang Maha Kuasa untuk mencabut kekuasaan dari seseorang, dan tidak ada seorang pun yang mampu untuk mengelak dari berlakunya ketetapan Allah tersebut.

Dengan demikian manusia pada dasarnya tidak memilki hak untuk berkuasa atau mengklaim dirinya sebagai raja dan penguasa bumi tanpa legalitas dan legitalisme dari pemilik sah kekuasaan tersebut. Manusia memiliki hak atas kekuasaan apabila kekuasaannya itu bersumber dari Allah Swt. Kekuasaan manusia yang tidak menjadikan Allah sebagai yang berdaulat secara penuh adalah wujud kekuasaan yang illegal dan tidak memiliki legitimitasi sedikitpun atas kekuasaan tersebut. Kekuasaan yang demikian adalah bentuk pengingkaran dari eksistensi Allah sebagai Al-Malik, dengan membuat kekuasaan tandingan didalam kekuasaan Allah swt. Kedaulatan dalam Negara tidak bisa dipengaruhi dan di interpensi oleh kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, tetapi kepentingan pribadi dan kelompok harus menyesuaikan dengan kepentingan dan kehendak-kehendak Allah, yang tertuang dalam aturan perundang-undangan Negara.

Manusia memiliki wewenang untuk berkuasa jika kekuasaannya itu adalah perwujudan dari kekuasaan (kedaulatan) Allah, dimana Allah dijadikan sebagai sumber dan supermasi tertinggi di dalam kekuasaannya. Atas dasar pendelegasian wewenang (transfer of autority and power) inilah manusia berhak untuk menjadi wakil/penguasa di bumi (Qs.6:165). Oleh karena itu kekuasaan dalam islam adalah suatu amanah dan bukan menjadi hak kepemilikan. Adapun ummat berwenang memegang kekuasaan tersebut jika mendapat “legislasi” dari Allah swt. Sehingga dalam penggunaan dan pelaksanaannya tidak bisa dijalankan secara bebas dan semena-mena. Wewenang ummat atas kekuasaan tersebut dibatasi oleh aturan-aturan syari’ah. Sebagai sebuah amanah maka si pemegang kekuasaan bertanggung jawab penuh atas terleksananya semua aturan-aturan syari’ah, karena setiap pelaksanaannya akan dipinta pertanggung jawaban, tidak hanya di mahkamah dunia tetapi juga di mahkamah Allah di yaumul akhir kelak.

Jadi jelas bahwa kekuasaan—pada hakikatnya—bukan hasil pendelegasian dari ummat kepada sebuah pemerintahan (seperti dalam konsep kekuasaan syirik). Karena kekuasan bukan bersumber dari ummat, maka ia tidak untuk di bawah kehendak dan rekayasa kepentingan manusia. Kekuasaan merupakan amanah ilahi yang didalamnya mengandung konsekuensi pertanggung jawaban, baik di hadapan ummat maupun di yaumul akhir.

Amanah kekuasaan Allah ini hanya diberikan kepada mereka yang memenuhi syarat, yakni kepada hamba-hambaNya yang terpilih dan dipilih (Qs.38:47) (Qs.2:130) (Qs.3:33) (Qs.35:32). Mereka adalah orang-orang yang beriman dan beramal sholeh (Qs.24:55). Hanya mereka yang berhak menjadi penguasa dan kholifah Allah di muka bumi. Mereka adalah ummat yang memenuhi syarat dan rukun untuk mendapat limpahan Allah dalam wujud kekuasaanNya.

Dari penjelasan di atas jelas bahwa Negara bukan sesuatu yang terpisah dari konsepsi tauhid, melainkan sesuatu yang integral di mana Daulah Islam merupakan perwujudan kongkrit (obyektif) dari Aqidah tauhid. Secara kelembagaan Daulah Islam adalah wujud  syar’I dari Mulkiyah Allah di bumi. Artinya Allah menjadi penguasa (raja) tertinggi yang kedaulatannya mengikat secara penuh terhadap seluruh kehidupan bernegara.

Selain sebagai perwujudan kekuasaan dan kepemimpinan Allah, Negara Islam adalah satu-satunya tempat dan syarat bagi pelaksanaan syari’at Islam. Dalam hal ini Negara menempatkan Allah sebagai Rabb yang berhak untuk mengatur, mengurus dan memelihara kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Perwujudan Rububiyah Allah dalam Negara tersebut dapat dilihat dari supermasi hukum Islam (Al-Qur’an dan Al-Hadits)  sebagai hukum tertinggi Negara.

Oleh karena itu bentuk kongkrit seseorang beraqidah tauhid adalah ketika ia terikat terhadap Daulah Islamiyah, dengan menjadikan Negara sebagai dasar, pusat dari tujuan dari setiap tingkah lakunya. Karena Aqidah Tauhid bukanlah sebuah angan-angan dan hayalan, melainkan ia harus mewujud kedalam bentuk amal yang kongkrit. Dan hidup bernegara Islam merupakan wadah bagi terlaksananya amal ibadah yang bernilai di sisi Allah. Negara adalah satu-satunya wasilah bagi pengabdian ummat kepada  Ma’bud nya. Karena sebuah amal dapat disebut sebagai amal sholeh jika dalam pelaksanaannya terstruktur didalam kerangka syari;at dan Negara Islam. Dengan demikian hidup bernegara Islam adalah menjadi eksistensi Allah berdaulat dalam diri, dimana eksistensi Negara tersebut tegak dalam diri individu ummat, tidak menjadi soal apakah Negara yang ia taati tersebut secara formal telah tegak secara sempurna atau belum (masih dalam proses pembangunan).

Daulah harus menjadi orientasi dari setiap niat dan tujuan hidup, secara aktivitas seseorang (ummat) terbimbing, terkendali dan terarahkan sesuai tuntunan Negara. Sehingga tidak terpisah antara keyakinannya terhadap eksistensi Allah dengan keterikatannya terhadap Negara, sehingga keluar sejengkal saja dari ketaatan terhadap Daulah/pemerintahan Islam berarti telah menjerumuskan diri kedalam kemusyrikan, yakni menyekutukan Allah baik dalam Rububiyah, Mulkiyah dan Uluhiyah-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: