HUKUM ZINA

“ (Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya. Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin

Sebab turunnya ayat

Diriwayatkan diberbagai sebab mengenai turunnya ayat

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik…”

Yang dibawakan oleh kaum mufassirin, dan yang kami nukilkan di sini dari beberapa penjelasan, yaitu yang terlengkap dan shaih. Sebagai berikut:

1. diriwayatkan bahwasannya seorang laki-laki, bernama Martsad Alghanawi, pekerjaannya membawa orang-orang tawanan dari Mekkah sampai ke Madinah. Di Mekkah ada seorang perempuan pelacur bernama anaq yang semula adalah teman Martsad. Martsad telah menjanjikan seorang  tawanan di Mekkah untuk membawanya ke Madinah. Martsad  bercerita. “saya dating hingga ke tempat teduh di bawah salah satu dinding dari dinding-dinding Mekkah pada suatu malamterang bulan. Anaq lalu dating dan ia melihat hitam baying-bayanganku di bawah dinding itu ketika sampai ia kepadaku ia mengenaliku dan bertanya: “Martsad?” Aku menjawab: “Ya, aku Martsad,” Ia berkata: “Selamat dating. Mari, bermalamlah di rumahku.” Mendengar jawabanku itu, ia lalu berseru: “Hai para penghuni kaimah-kaimah, inilah orang laki-laki yang selalu membawa tawanan-tawananmu.”  Martsad meneruskan ceritanya: “Maka aku di ikuti oleh delapan orang dari mereka, hingga aku sampai di suatu gua. Para pengejarku sampai pula di gua itu dan berdiri tepat di atas kepalaku, lalu berkemih dan air kemih mereka membasahi kepalaku, namun Allah swt. menjadikan mereka tidak melihatku. Kemudian mereka kembali, dan aku pun kembali kepada kawanku (tawanan yang  hendak kularikan itu) dan aku membawannya sampai aku tiba di Madinah. Aku dating kepada Rasulullah saw. dan bertanya: ya Rasulullah, apakah sebaiknya aku mengawini anaq?” Rasulullah berdiam diri, tidak mengucapkan sekata pun. Lalu Allah menurunkan “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik…”

Rasulullah membacakannya kepadaku, lalu berkata: “Martsad, janganlah mengawaininya.” Diriwayatkan oleh Alhaki dan atturmudzi dari Amr bin Syu’aib dari kakeknya. Dibawakan oleh Assayuthi dalam Tafsirnya “ Addurul-Mantsur”

2. diriwayatkan bahwa ayat tersebut diturunkan sehubungnan Ahli Shuffah, yakni segolongan kaum muhajirin, yang di Madinah tidak mempunyai tempat tinggal ataupun keluarga, lalu mereka menempati serambi masjid. Mereka berjumlah empat ratus orang. Pada siang hari mereka mencari rezeki dan pada alam hari bermalam di Dhuffah (serambi masjid). Pada waktu itu dikota Madinah terdpat banyak pelacur yang melakukan kecabulan dengan terang-terangan dan yang bermewah-mewahan dalam berpakaina dan dalam makan-minum. Beberapa orang dari Ahli Shuffah berkeinginan untuk kawin dengan pelacur-pelacur itu, supaya mereka dapat bertempat tinggal di rumah-rumah perempuan-perempuan itu dan dapat memperoleh makan-minum dari mereka. Lalu turunlah ayat; “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik…”Alqurtubi, jilid 12 hal. 168

POKOK-POKOK HUKUM

Hokum pertama

Bagaimanakah bentuk hukuman zina pada permulaan Islam?

Bentuk hukuman zina pada permulaan islam adalah ringan dan bersifat temporer, sebaba kaum muslimin pada waktu itu belum lama meninggalkan kehidupan jahiliah nya, sedang sunnatullah dalam mensyariatkan hokum-hukum ialah dengan cara membawa manusia ke jalan berangsur-angsur itu dapat berhasil dengan efektif, serta lebih mantap dalam penerapannya dan lebiih licin masuk ke dalam hati dan jiwa untuk menerima syariat Allah dengan rasa rela dan hati tentram. Sebagaimana kita saksikan mengenai masalah pengharaman khamar, riba, dan hukum-hukum syariat lainnya.

Adapun bentuk hukum zina pada masa permulaaan Islam ialah seperti yang Allah kisahkan kepada kita dalam surat An-Nisa (ayat 15-16 yakni firmanNya)

“Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji [275], hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya. Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Maka (menurut ayat-ayat tersebut) hukuman terhadap seseorang perempuan yang berzina ialah hukuman kurungan dalam rumah dan larangan keluar rumah, sedang terhadap laki-laki hukumannya ia cerca dan celaan keras dengan ucapan.

Kemudian hukuman tersebut dinasakh dengan firman Allah: “Perempuan yang berzina dan laki-laki berzina deralah masing-masing dari mereka seratus kali”. Rupanya tindakan tersebut dalam ayat 14 surat An-Nisa yang disyariatkan pada masa permulaan Islam adalah hanyalah tindakan dalam bentuk hukuman fisik, hal mana terbukti dari ketentuan batas waktu bagi habisnya hukuman yang harus dijalani itu, yaitu yang tersebut dalah firman Allah swt.

sampai mereka menemui ajalnya atau sampai Allah memberi jalan lain kepada merek). Hukuman ini kemudia diganti dengan hukuman lain yang lebih berat, yaitu hukuman dera bagi pelaku-pelaku yang belum pernah kawin (perawan dan jejaka) dan hokum rajam atas pezina yang sudah kawin. Maka dengan demikian berakhirlah bentuk hokum yang sifatnya sementara itu (ayat 15 Surat An-Nisa) untuk menggantikan dengan hukuman yang keras dan berat itu.

Diriwayatkan dari  Ubadah bin Shamat ra. Bahwasannya ia berkata: “Nabi Saw. apabila turun kepadanya wahyu kelihatan beliau seperti orang yang tertimpa duka dan roman muka beliau berubah. Pada suatu hari Allah menurunkan wahyu kepada beliau dan beliau mengalami hal yang sama. Setelah sadar kembali beliau bersabda: “Ambillah dariku, ambillah dariku. Allah telah memberi jalan bagi  wanita-wanita (yang berzina) itu: perzinaan antara perawan dan jejaka hukumnya seratus dera dan pengasingan selama setahun : perzinaan antara balu dan balu (janda dan duda) hukumnya seratus dera dan rajam” Diriwayatkan oleh Muslim. Abu Dawud dan Atturmudzi.

Hukum kedua

Apakah hukuman yang dikenakan terhadap pezina yang belum kawain dan yang sudah kawin?

Syariat Islam membedakan dalam maslaah hukuman zina terhadap orang yang belum/tidak kawin dan orang yang kawin. Terhadap yang pertama hukuman itu diringankan dan ditetapkan menjadi seratus kali dera. Sedang terhadap  yang kedua hukuman itu diperkeras berupa “rajam sampai mati”. Hal ini karena dalam pandangan Islam kejahatan perbuatan zina oleh orang yang sudah kawin adalah lebih berat daripada pelacuran biasa. Hubungan seks yang dilakukan oleh laki-laki yang beristri dengan perempuan yang mempunyai suami dengan jalan zina adalah lebih keji dan buruk dari pada kalau perbuatan itu dilakukan dengan orang yang belum/tidak kawin. Pezina yang dilakukan dengan perempuan yang mempunyai suami menyebabkan rusaknya keturunan orang lain (yaitu suami perempuan itu) serta menodai kesucian tempat tidurnya. Sedang laki-laki yang menzinai itu untuk melampiaskan nafsu syahwatnya, telah menempuh jalan yang tidak sah, padahal ia dapat melampiaskan syahwatnya itu dengan jalan yang sah. Oleh sebab itu maka hukumannya lebih berat dank eras.

Hukuman dera positif berdasarkan nas Al-Qur’an

Hukuman dera secara positif bersdasarkan nas Al-Qur’an yang tak dapat dibantah, yaitu firman Allah : “Perempuan yang berzina dan laki-laki berzina deralah masing-masing dari mereka seratus kali”. Ayat ini berhubungan dengan pezina yang tidak bersuami/beristri. Ayat ini. Sekalipun mempunyai sifat umum, yaitu menyangkut setiap pezina, namun hadits Nabi saw. telah  menerangkan dan menjelaskan hukuman itu, sebagaimana tersebut dalam hadits yang diriwayatkan dari Ubadah  bin Shamit, tersebut di muka. Memang tugas Rasulullah saw. adalah memberikan penjelasan kepada manusia, sebagaimana difirmankan Allah swt. “Agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang diturunkan kepada mereka”—(surat An-Nahl 44) kiranya cukuplah apa yang dijelaskan dan diterangkan Rasulullah saw. menjadi suatu pemerincian dan penegasan tentang pa yang tercantum secara global dalam Al-Qur’an.

Hukuman rajam positif berdasarkan hadits-hadits nabawi yang mutawatir.

Adapun berkenaan dengan “rajam”. Hukuman ini secara positif validitasnya dibuktikan oleh perbuatan. Sabda dan amalan Nabi saw. dan pula menurut ijma’ para sahabat dan tabi’in. Dengan hadits-hadits yang shaih yang kebenarannya tak diragukan lagi dan dengan jalan tawatur telah terbukti dengan positif bahwasannya nabi saw. melaksanakan hukuman rajam terhadap beberapa sahabat. Seperti terhadap Ma’iz dan Alghamidiah dan bahwasannya para khulafa Arrasyidin, sewafat Nabi menegakan pula hukum ini di zaman mereka, bahkan mereka mengumumkan bahwa rajam adalah hukuman perbuatan zina terhadap pelakunya yang telah kawin.

Selanjutnya para ulama fiqih Islam di setiap zaman dan di setiap tempat tetap bersepakat pendapat dengan ijma’ bahwa hukuman rajam adalah suatu hukum yang tetap, serta suatu sunnah Nabi yang harus di ikuti dan suatu syariat Ilahi yang positif, didukung oleh bukti-bukti yang saling memperkuat dan menunjang, sehingga tiada tempat bagi keraguan dan kesangsian mengenai keabsahannya. Hukum ini tetap berlaku sampai zaman kita ini dan tiada seorang pun yang menentangnya, selain suatu golongan eksentrik yang telah menyimpang dari ajaran Islam, yaitu golongan khawarij yang mengatakan bahawa hukuman rajam tidak disyariatkan.

Dari kitab Tafsir ayat-ayat hukum dalam Al-Qur’an jilid 2 hal.26 terjemahan Indonesia. PT.Al-Ma’arif Bandung.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: