APA TUJUAN TERBENTUKNYA NEGARA ISLAM?

Tujuan pokok negara Islam antara lain ialah:

1. Melaksanakan ajaran Islam

Berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (dalam arti: yakini, pahami dan laksanakan aturan Allah) secara berjama’ah dan jangan safarruq (QS. 3:103).

Negara Islam adalah bentuk jama’ah ummat Islam yang bertujuan melaksanakan ajaran Islam dalam segala aspek kehidupan, sehingga tersiptalah ummat yang teguh keimanannya (tauhidullah) dan sarat amal shalihnya. (Sebab hanya dengan Iman dan amal shalihlah janji Allah dalam QS 24:55, 16:9, 2:82, 5:9, 2:62, 10s:3) dapat kita capai.

2. Menegakkan keadilan negara karena Allah.

Hai orang yang beriman jadilah kamu sekalian penegak keadilan sebagai saksi karena Allah semata, sekalipun atas dirimu atau kedua orang tuamu atau kerabat mu. Jika mereka kaya atau fakir maka tetap Allah yang lebih diutamakan dari pada keduanya. Jangalah kalian mengikuti hawa nafsu, sebab itu suatu penyelewengan dan jika kau putarbalikkan atau menolak (kebenaran) maka sungguh Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan ( QS. 4: 145).

Adillah, dia sangat dekat kepada takwa (QS 5:8)

Negara islam (ummat dan ulil amrinya) harus mampu mewujudkan keadlian yuang hakiki, yaitu keadilan berdasarkan tauhiullah dan aturan Allah semata, baik antar pribadi, keluarga, masyarakat maupun antar negara, baik dalam urusan jinayah, muamalah siyasah dsb.

3. Memakmurkan Bumi Allah

Allah telah menjadikan kamu sekalian dari bumi, dan memakmurkan kamu padanya. (QS 11:16)

Bahwasanya bumi ini pewarisnya adalah hamba-hamba yang sholih. (QS 21:105).

Negara Islam dengan segala dan daya yang dimilikinya bertujuan memakmurkan bumi ini bagi sebesar-besar kesejahteraan ummat dan negaranya.

4. Membentuk pasukan keamanan yang tangguh

Siapkanlah kekuatan tempur dengan segala perlengkapannya sekuat mampu kamu, sehingga musuh Allah, musuhmu dan musuh lainnya akan gentar karenanya (QS. 8:60).

Negara Islam harus mampu membentuk pasukan keamana yang tangguh sehingga musuh-musuh Islam tidak berani berkutik dan terciptalah situasi aman dan tentram.

5. Bekerjasama dengan negara-negara Islam lainnya guna menciptakan khalifah fil Ardhi dan kerja sama lainnya.

Dan sesungguhnya ummatmu ini adalah umat yang satu dan Akulah Rab kamu, maka taqwalah kepada Ku. (QS.23:52).

Bertolong-tolonglah kamu sekalian atas dasar kebaikan dan taqwa dan janganlah bertolong-tolong atas dasar dosa dan permusuhan (QS 5:2).

Negara Islam harus mampu menciptakan kerjasama yang konkrit dengan sesama negara Islam dan Ummat Islam lainnya guna membangun dunia yang haq dengan sistem kepemimpinan yang haq pula, sehingga benar-benar terwujud lah ummat Islam sebagai ummat Wahidah.

MENGAPA HARUS NEGARA ISLAM ?

Mengapa kaum muslimin menginginkan berlakunya syari’at Islam dan berdirinya Negara Islam ? Karena, ajaran Islam tidak menyetujui penyekatan antara agama dan politik. Islam ingin melaksanakan politik selaras dengan tuntunan yang telah diberikan agama dan menggunakan negara sebagai sarana melayani Allah. Islam menggunakan kekuatan politik untuk mere-formasi masyarakat dan tidak membiarkan masyarakat melorot ke dalam “tempat terakhir yang paling buruk”. Hal ini menunjukkan bahwa reformasi yang dike-hendaki Islam tidak dapat dilaksanakan melalui khutbah–khutbah saja. Kekuatan politik juga penting untuk mencapainya. Inilah cara pendekatan Islam. Dan konsekuensi logis dari cara ini adalah bahwa negara harus dibentuk berdasarkan pola-pola Islami. Inilah ketentuan keimanan Islam dan tidak dapat diabaikan begitu saja. Konsep Barat yang menerapkan pemisahan agama dari politik (sekulerisme) adalah asing bagi Islam, dan menganut paham ini sama artinya pembangkangan hakiki dari konsep politik Islam. Apakah Islam menginginkan agar Negara Islam ditegakkan? Pada paruh tahun 80-an pernah muncul polemik di sekitar pandangan bahwa di dalam Al-Qur’an tidak ada istilah Negara Islam. Dr. M. Amien Rais, mantan Ketua PP Muhammadiyah adalah yang pertama-tama mengangkat masalah tersebut. Dan 18 tahun kemudian, 1998, Amien Rais menjadi pemimpin Partai Amanat Nasional setelah mengundurkan diri dari kepemimpinan Muhammadiyah. Sikap dan pemikiran politik Amien Rais sekarang, agaknya merupakan kelanjutan dari pernyataannya itu. Artinya, pada era reformasi sekarang ini, Amien Rais menemukan momentum yang tepat untuk melaksanakan gagasannya yang tidak menghendaki berdirinya negara Islam. Melalui PAN (Partai Amanat Nasional), sebuah partai baru yang merupakan kumpulan manusia Indonesia yang berasal dari berbagai keyakinan, pemikiran, latar belakang etnis, suku, agama dan gender. Partai ini menganut prinsip non sektarian dan nondiskriminatif (Majalah Ummat, 12 Agustus 1998). Apakah Islam menginginkan agar negara Islam ditegakkan? Sudah pasti Islam menginginkannya. Sebab missi Islam sangat jelas. Islam menghendaki, agar apa yang dipandang baik harus terjadi dan dilaksanakan. Dan apa yang dipandang buruk harus lenyap dan dihindari. Hal itu tidak mungkin bisa terpenuhi selama ummat Islam berada di bawah cengkraman penguasa di sebuah negara yang tidak menghendaki berlakunya syari’at Islam. Adanya pandangan, bahwa kaum muslimin bisa saja membangun masyarakat yang Islami di dalam negara yang bukan negara Islam, seperti slogan salah satu partai Islam: “Kita menghendaki negara yang Islami bukan negara Islam”, hanyalah angan-angan, ibarat membangun rumah laba-laba, atau bagai membangun runah di atas lumpur. Hal ini harus disadari sepenuhnya oleh tokoh-tokoh organisasi Islam. Bahwa mengharapkan terlaksananya ajaran Islam secara kaffah di dalam negara yang menggunakan sistem non Islam adalah sesuatu yang absurd. Bagaimanakah gambaran sebuah negara yang Islami di dalam negara yang bukan negara Islam? Apakah ada contohnya di zaman Rasulullah, para khalifah atau di zaman kita sekarang ini? Jika memang ada, alangkah bagusnya misalnya, lahir Indonesia Baru berdasarkan Pancasila dan hukum yang berlaku adalah hukum Islam. Dapatkah konsep semacam ini direalisasikan? Kenyataannya, selama bertahun-tahun di bawah rezim Soekarno, kemudian 32 tahun berada di bawah rezim Soeharto, kaum muslimin bagai menanam pohon di pekarangan milik orang lain: hanya mengerjakan program yang dibuat pihak lain. Dan orang lain itu adalah mereka yang tidak menghendaki berlakunya syari’at Islam. Di era reformasi ini, apakah umat Islam tidak berfikir dan menyusun program, bagimana membangun Indonesia baru yang berlandaskan Islam? Apabila tokoh-tokoh Islam kini belum juga menyadari kenyataan ini, maka hakekatnya merekalah sesungguhnya yang ikut mempercepat missi de-Islamisasi dan penyempitan terhadap ruang gerak Islam di negeri ini. Tanpa adanya negara dan kekuasaan Islam, bagaimana kita dapat merealisasikan firman Allah: “Dan katakanlah:Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap. Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”. (Al-Isra’,17:81). Adanya kewajiban umat Islam untuk mendirikan Negara Islam, telah dibahas secara panjang lebar oleh Prof. Dr. M. Yusuf Musa, MA dalam bukunya “Nidhamul Hukmi fil Islam”. Terhadap pertanyaan, apakah Islam mewajibkan berdirinya Negara Islam, Dr. M. Yusuf Musa menjawab: “Islam telah membawa ketentuan syari’at yang menjadi tuntunan otomatis bagi kepentingan terwujudnya satu ummat dan negara berdasarkan prinsip-prinsip yang rasional dan memenuhi kebutuhan masyarakat manapun pada setiap zaman dan tempat.” Ciri khusus dari dienul Islam ialah, missinya yang bersifat abadi dan universal, missi yang Allah jadikan sebagai penutup seluruh missi Ilahiyah kepada manusia. Karenanya, Islam merupakan agama universal mencakup semua manusia yang berbeda kebangsaan, golongan dan warna kulitnya, sampai saatnya jagad ini diwarisi oleh Allah (kiamat). Yusuf Musa selanjutnya mengatakan : “Memang bukanlah suatu keharusan untuk mengakui bahwa bangsa Arab Islam dahulu, sekalipun pada kurun awalnya telah ada sebuah negara yang melaksanakan dan memperhatikan serta mengurus kepentingan ummat sesuai dengan syari’at Allah dan rasul-Nya. Dan memang, tidak kita dapati secara definitif di dalam Al-Qur’an dan sunnah yang shahih kaedah-kaedah umum yang menjadi landasan tatanan pemerintahan dalam Islam…” “…Akan tetapi dengan mengambil kesimpulan dari perilaku Rasulullah dan para sahabatnya di Madinah yang telah menjadikan negeri itu tanah air bagi mereka untuk selamanya, maka menjadi sempurnalah langkah bangsa Arab dan kaum muslimin dalam menegakkan sebuah negara yang memiliki segala unsur dan pilar-pilarnya, sebuah negara yang oleh Al-Qur’an dan sunnah Rasul diisyaratkan kewajiban untuk menegakkannya. Dan hal ini sesuai dengan definisi tata negara tentang negara itu sendiri. Sebuah negara yang memiliki pemimpin yang dipatuhi oleh seluruh kaum muslimin yang berbeda asal-usul, bangsa, dan warna kulitnya”. (Hal. 24-26). Islam mendidik manusia supaya bersih jiwanya, sehat pikirannya, cerdas akalnya, luas wawasan ilmunya dan kuat jasmaninya, “Basthatam fil ilmi wal jismi”. Tetapi bagaimana hal itu bisa terjadi tanpa adanya sebuah negara dan pemerintahan yang eksistensinya tegak di atas dasar-dasar Islam? Jawaban bagi pertanyaan di atas adalah, Islam yang agung telah mewajibkan kepada para pemeluknya untuk menjadi pemimpin di negaranya dan penguasa di bumi manapun mereka tinggal. Mereka harus mendakwahkan Islam, mengajak orang lain untuk masuk ke dalam Islam, hidup menurut ajaran al-Qur’an dan merasa tenang di bawah naungan petunjuk-Nya. Ummat muslim sesungguhnya memiliki potensi untuk memimpin bangsa dan ummat ini, asalkan mereka tetap melangkah dengan mantap menuju tujuan yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, dan bukan tujuan yang ditetapkan manusia berdasarkan hawa nafsunya. Bahwa ummat Islam harus memiliki negara, tempat atau wadah bagi dilaksanakannya syari’at yang mustahil dilakukan di dalam sebuah negara yang bukan negara Islam, harus ditumbuhkan ke dalam hati setiap orang yang mengaku dirinya muslim. Untuk selanjutnya, ummat Islam di seluruh dunia berjuang mengembalikan sistem kekhalifahan yang telah dihancurkan oleh musuh-musuhnya. Negara Islam hanyalah basis awal untuk mencapai tujuan yang lebih spesifik dan mendunia, yaitu tegaknya Khilafah Islamiyah. Dalam pengertian inilah barangkali, yang menyebabkan Syarikat Islam (SI) di bawah komando HOS Cokroaminoto memilih jalan non kooperatif dan dengan tegar menjalankan politik hijrah sebagai strategi perjuangannya sejak tahun 1923. Dan akibat paling menakjubkan dari sepak terjang tokoh ini, khususnya bagi regenerasi Islam adalah lahirnya kekuatan melawan imperalisme dan kolonialisme. Sikap yang ditunjukkannya seperti yang kemudian tertuang di dalam anggaran dasar partai adalah berjuang, “Menuju Kemerdekaan Kebang-saan Berdasarkan Agama Islam.” Tidaklah mengherankan, jika kemudian prinsip demikian itu mempengaruhi paradigma berpikir, pandangan hidup maupun perilaku politik SM Kartosuwiryo, mengingat bahwa dia adalah murid, sekretaris pribadi serta pengagum politik Islamisme (Islam sebagai ideologi) HOS Cokroaminoto. (Irfan S. Awwas )

Tingkatan-tingkatan (hirarki) keyakinan

Pada penjelasan sebelumnya telah diterangkan bahawa iman atau keyakinan adalah sebuah  cahaya yang bersemayam di dalam hati (qolbu/nafs). Sifat dari cahaya adalah sesuatu yang menerangi dan mampu menembus kegelapan. Demikian pula dengan cahaya iman, ia mampu menerangi dan memiliki kekuatan untuk menembus dan menyingkap tirai-tirai (hijab-hijab) kegelapan yang menyelimuti diri dan kehidupan manusia, sehingga dengan cahaya iman itu ia mampu menyaksikan hakikatt Al-Haq (Allah swt). Baca pos ini lebih lanjut

Konsep Qiro’ah

Pengertian dan status qiro’ah

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa tujuan ma’rifah adalah dalam rangka mengenal eksistensi Allah (ma’rifatullah), melalui pengenalan terhadap eksistensi manusia (ma’rifatul insane/nafs). Adapun langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan cara “qiro’ah”, yakni membaca tentang eksistensi Allah dan diri manusia tersebut. Qiro’ah merupakan aspek metodis (metode/cara) dari proses ma’rifah. Qiro’ah merupakan langkah awal yang harus dilakukan oleh seseorangdalam proses ma’rifah nya. Melalui metode qiro’ah dengan segala cakupannya seseorang tidak akan salah langkah yang akan mengakibatkan terjerumus kedalam kesesatan dalam memahami makna dan tujuan hidup yang sebenarnya.

Baca pos ini lebih lanjut

Konsekuensi seseorang yang telah ma’rifah

Mengenal terhadap hakikat diri (ma’rifatunnafs) adalah dasar fundamental yang akan menentukan bagi perjalanan hidup seseorang (manusia) dalam kehidupannya di muka bumi ini. Seseorang yang telah ma’rifah, baik terhadap eksistensi diri maupun eksistensi Allah, maka ia akan menjalani hidupnya dengan benar pula. Artinya ia mampu memahami dan menyadari arti dari keberadaannya (kehidupannya), baik asal-usul, status, tujuan, tugas dan tanggung jawab hidupnya, serta memahami dan mengenali hakikat diri (nafs) dan potensi-potensi yang dimilikinya dalam rangka menjalani kehidupan ini dengan benar sesuai dengan kehendak dari penciptanya. Ia akan selalu berusaha menjaga dan memelihara kemanusiaannya, memelihara perbedaan antara dirinya dengan makhluk-makhluknya hidup lainnya dengan cara menunaikan segala tujuan dan misi amanah yang  Allah berikan kepadanya secara sungguh-sungguh.

Baca pos ini lebih lanjut

Hubungan Akhlak dengan Syari’ah

Sebagai bentuk perwujudan  iman (Aqidah tauhid), akhlaq mesti berada dalam bingkai aturan syari’ah Islam. Karena seperti dijelaskan diatas, akhlaq adalah bentuk ibadah dalam rangka  mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan proses ibadah harus dilakukan sesuai dengan aturan mekanisme yang ditetapkan syariah, agar bernilai  sebagai amal shalih. Syariah merupakan aturan mekanisme dalam amal ibadah seseorang mukmin/muslim dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. (Qs.42:13, 3:19, 22:77, 96:19). Melalui prantara syariah akan menghubungkan proses ibadah kita kepada Allah. Suatu amal diluar aturan mekanisme ibadah tidak bernilai sebagai amal shalih. Demikian pula akhlaq sebagai bentuk hawaliyah akan menjadi sia-sia jika tidak berada didalam kerangka aturan syariah. Jadi, syaria adalah syarat yang akan menentukan bernilai tidaknya suatu amal ibadah. Baca pos ini lebih lanjut

Ma’rifah adalah tahap awal berdinul Islam

Bagi seorang mu’min hakikat kehidupan pada dasarnya adalah dalam rangka membangun kesempurnaan Iman (Aqidah Tauhid). Wujud dari keimanan adalah meyakini bahwa “tidak ada ilah kecuali Allah (lailahaillallah)”, yakni menjadikan Allah sebagai satu-satunya dzat yang wajib di ibadahi, serta menafikan ilah-ilah selain Allah swt. “laailaahaillallah” adalah kalimah thoyibah atau qoulu tsabit, yang dengannya Allah meneguhkan orang-orang yang beriman. Sebagaimana dalam firman Allah swt

Baca pos ini lebih lanjut

Batasan dan fokus ma’rifatullah

Ma’rifah secara bahasa berasal dari kata dasar ‘arofa-ya’rifu yang berarti mengetahui, memahami, mengenal. Ma’rifatullah berarti mengenal Allah. Yang dimaksud mengenal Allah bukanlah dalam hal dzat-Nya, karena manusia tidak memiliki kemampuan (potensi) untuk mengenal dzat Allah tersebut. Upaya untuk mengenal dzat Allah adalah suatu yang sia-sia dan dapat menyesatkan. Itulah sebabnya mengapa Islam melarang manusia memikirkan tentang dzat Allah, dan sebaliknya memerintahkan untuk memikirkan ciptaan dan ayat-ayat-Nya, “Tafakur lah tentang ciptaan Allah dan janganlah bertafakur tentang Dzat Allah”. “Tafakur lah tentang ciptaan Allah dan janganlah tafakur tentang dzat Allah niscaya kalian akan celaka” “Tafakurlah tentang ayat-ayat Allah, janganlah bertafakur tentang Allah karena sesungguhnya kalian belum mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.”

Jadi jelas bahwa  hakikat Dzat Allah bukan menjadi wilayah kewajiban manusia untuk mengenalinya. Baca pos ini lebih lanjut

Aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Berikut ini akan kami bawakan risalah yang berisi tanya-jawab dalam hal aqidah yang banyak memandang negatif dan membenci beliau tanpa ilmu pengetahuan.

Silakan anda telaah dengan pikiran yang jernih dan hati yang tenang. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita.

Tanya : Siapakah Rabbmu?
Jawab : Rabbku adalah Allah yang telah memeliharaku dan memelihara seluruh alam dengan segala nikmat-Nya. Dia lah sembahanku, tidak ada bagiku sesembahan selain-Nya. Sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala dalam surat al-Fatihah (yang artinya), “Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.”

Tanya : Apakah makna kata Rabb?
Jawab : Yang menguasai dan yang mengatur, dan hanya Dia (Allah) yang berhak untuk diibadahi Baca pos ini lebih lanjut

Benarkah kita harus mentaati pemerintah?

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu adalah yang terbaik untuk kalian dan paling bagus dampaknya.” (QS. an-Nisaa’: 59)

  1. Ada perbedaan dalam menafsirkan ma’na ulil amri. Dari abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sebagaimana diriwayatakan oleh ibnu Jarir ath-Thobari dengan sanad sahih. Beliau berkata yaitu “Ulil amri ialah para pemimpin/pemerintah. Didalam kitab fath al –Bari;8/106(pdf) “maksud dari ulil amri adalah para pemimpin pemerintah“. Baca pos ini lebih lanjut

Hubungan dan kaitan Akhlaq dengan Aqidah

Dari pengertian tentang akhlaq dalam artikel sebelumnya jelas bahwa akhlaq tidak bisa dipisahkan dari aqidah. Hal ini karena akhlaq muncul dan lahir dari jiwa, sedangkan jiwa dibentuk oleh aqidah yang mengikatnya. Aqidah merupakan dasar fundamental dari seluruh aspek kehidupan. Aqidah menjadi pokok dan sentral  dari keberadaan seseorang di muka bumi ini. Demikian pula setiap cara pandang dan segenap tingkah laku serta amal perbuatan yang lahir dari jiwa tersebut sangat ditentukan oleh aqidah yang mendasarnya.

Kehidupan dan tingkahlaku (akhlaq) seseorang tidak akan keluar dari aqidahnya. Jika aqidah yang pengikat diri (jiwa)-nya adalah syirik, maka sudah pasti akan melahirkan akhlaq yang ahwaliyah yang dasar-dasarnya dibangun diatas nilai-nilai dan prinsip syirik. Dan setiap akhlaq syirik yang dijalankan oleh seseorang akan semakin memperkuat dan menyempurnakan sikap syirik (dan kufur) dalam jiwanya.

Sebaliknya demikian, jika aqidah yang mengikat jiwa seseorang adalah Tauhid, maka akan lahir akhlaq tauhid. Akhlaq tauhid ini akan nampak dalam bentuk-bentuk ahwaliyah yang dibangun diatas nilai-nilai dan prinsip-prinsip tauhid secara utuh (kafah). Dan setiap akhlaq Tauhid yang dijalankan seseorang akan semakin memperkuat dan menyempurnakan keimanan (keyakinan) dalam diri (jiwa)nya. Baca pos ini lebih lanjut

Sebab Terjadinya Fathu Makkah

Diawali dari perjanjian damai antara kaum muslimin Madinah dengan orang musyrikin Quraisy yang ditandatangani pada nota kesepakatan Shulh Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriyah. Termasuk diantara nota perjanjian adalah siapa saja diizinkan untuk bergabung dengan salah satu kubu, baik kubu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan kaum muslimin Madinah atau kubu orang kafir Quraisy Makkah. Maka, bergabunglah suku Khuza’ah di kubu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan suku Bakr bergabung di kubu orang kafir Quraisy. Padahal, dulu di zaman Jahiliyah, terjadi pertumpahan darah antara dua suku ini dan saling bermusuhan. Dengan adanya perjanjian Hudaibiyah, masing-masing suku melakukan gencatan senjata. Namun, secara licik, Bani Bakr menggunakan kesempatan ini melakukan balas dendam kepada suku Khuza’ah. Bani Bakr melakukan serangan mendadak di malam hari pada Bani Khuza’ah ketika mereka sedang di mata air mereka. Secara diam-diam, orang kafir Quraisy mengirimkan bantuan personil dan senjata pada Bani Bakr. Akhirnya, datanglah beberapa orang diantara suku Khuza’ah menghadap Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam di Madinah. Mereka mengabarkan tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh orang kafir Quraisy dan Bani Bakr.

Karena merasa bahwa dirinya telah melanggar perjanjian, Baca pos ini lebih lanjut

AKHLAQ

PENGERTIAN AKHLAQ

  1. A. Akhlaq secara etimologis  dan terminologis

Kata akhlaq adalah bentuk jama’ dari akar kata khuluq. Pariasi kata khuluq atau akhlaq memiliki beberapa bentuk dan arti, yakni :

-         kholqun bermakna bar’un/bariyyatun, ihdats, makhluqootun yang artinya penciptaan, kreasi makhluk, ciptaan.

-         Kholqun bermakna khilqoh, jibillah yakni karakter atau pembawaan.

-         Khilqotun : pembawaan, secara alami.

-         Khuluqiyyun, khulqiyun atau akhlaqiyyun: berkaitan dengan moral, sopan santun, etika

-         Kholqiyyun, kholqiyyun sama artinya dengan fitriy, thobi’I, yakni menurut pembawaan atau tabiat.

-         Khuluq, khulqun (jama; dari akhlaq) sama dengan sajiyyah atau tgob’un, yakni watak, budi pekerti, karakter.

-         Khuluq mengandung arti ‘aadah (adapt, kebiasaan), muru’ah (keperwiraan, kejantanan, kesatriaan) Din (agama), ghodgob (kemarahan).

Dari arti bahasa tersebut kata akhlaq dapat disimpulkan sebagai budi pekerti, kebiasaan, moral (etika), sopan santun yang muncul dari tabiat, pembawaan, karakter dan agama dari seseorang atau sekelompok orang. Baca pos ini lebih lanjut

Daullah menurut tinjauan Aqidah Tauhid

a. pengertian dan ruang lingkup Aqidah Tauhid

Aqidah mengandung arti keyakinan/ keimanan yang tertanam dalam bathin dan dibuktikan alam bentuk tindakan lahiriyah (tasdiq biqolbi, irar billisan wa qobul bilarkan). Keyakinan ini berfungsi sebagai ikatan yang mendasari setiap aktivitas hidup manusia. Sedangkan tauhid adalah mengesakan, Mulkiyah dan Uluhiyah_Nya (Qs. 1:1-4)

Artinya : Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari Pembalasan.

(Qs. 114:1-3)

Artinya : Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia”.

(Qs. 39:6)

Artinya :  Dia menciptakan kamu dari seorang diri Kemudian dia jadikan daripadanya isterinya dan dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain Dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” Baca pos ini lebih lanjut

Konsepsi Daulah menurut Islam

Daulah sebagai sebuah organisasi politik yang mengatur kehidaupan social masyarakat menuju tujuan dan cita-cita tertingginya merupakan hal yang funfamental dalam islam. Islam bukan ajaran tentang masalah ubudiyah mahdhoh wa ghoiroh mahdhoh semata yang terlepas dari konteks strukturisasinya dalam kehidupan ummat, tetapi islamadalah sebuah system paripurna yang prinsip-prinsip ajarannya meliputi seluruh aspek dan dimensi kehidupan dan Negara (daulah islamiyah)  adalah implementasi dari Baca pos ini lebih lanjut

Daulah Islam

Muqodaimah

Menurut pandangan umum, lahirnya sebuah Negara melalui dua tahapan, yakni pertama adalah pembentukan masyarakat, yang dibentuk dari sebuah kesepakan dari tiap-tiap individu untuk membentuk suatu badan (lembaga) yang dapat mewadahi kehidupan mereka (factium unionis/social contract proper). Perjanjian masyarakat ini  kemudian dilanjutkan ke tahap kedua yakni diadakan perjenajian antara masyarakat  dengan seseoarng atau suatu badan yang kepadanya diberikan kekuasaan dengan syarat-syarat tertentu harus dihormati dan ditaati oleh kedua belah pihak, baik rakyat atau pemerintah (factum subjectionis contract of government). Pemerintah ini diberi mandat untuk menjalankan kekuasaan atas nama masyarakat yang diwakilinya. Dari kesepakatan bahwa lahirnya Negara adalah hasil kesepakatan dari sekumpulan masyarakat dalam rangka membentuk suatu pemerintahan yang bersifat mengikat secara politik maupun hukum terhadap seluruh warga masyarakat tersebut. Baca pos ini lebih lanjut

10 Metode Mendeteksi dan Menggagalkan Rencana Mata-Mata

Dengan menyebut nama Allah Yang Pemurah lagi Maha Penyayang.   Segala puji bagi Allah, Maha Pencipta dan Penopang Alam Semesta. Segala puji bagi-Nya yang telah berfirman:

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS Al Mulk [67]: 13)

Dan shalawat serta salam senantiasa dicurahkan kepada Nabi Terakhir, Muhammad SAW, yang bersabda:

“Peliharalah kebenaran, karena kebenaran mengarah pada kebaikan, dan kebenaran mengarah pada Surga. Seseorang yang terus mempertahankan kebenaran sampai dia dicatat dalam buku Allah sebagai orang yang shalih. Ia selalu Menahan diri dari berbohong. Karena letaknya berbohong mengantarkan pada kejahatan secara terang-terangan, dan keburukan mengantarkan pada api neraka. Seorang pria yang terus berbohong sampai dia dicatat dalam buku Allah sebagai pembohong.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Al-Tirmidzi).

..dan semoga rahmat juga senantiasa tercurah atas keluarganya dan para sahabatnya serta para pengikutnya.

Allah berfirman dalam Kitab-Nya:

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS Al Anfal [8]: 30)

Dengan pemikiran ini, dan mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi baru-baru ini, terutama penangkapan saudara kita di Oregon (semoga Allah meneguhkannya dan segera membebaskannya), saya telah memutuskan untuk merekam dan menuliskan 10 metode –yang, melalui pengalaman pribadi saya sendiri– akan memberikan pencerahan seputar taktik yang sering digunakan oleh mata-mata atau informan untuk menjebak dan akhirnya menangkap Muslim, dan berikut inilah cara untuk menggagalkan rencana ini.

#Satu#

Seorang mata-mata akan selalu memulai aksinya dengan “mencari muka”. Proses ini memakan waktu beberapa bulan. Mereka bergabung dan aktif di forum atau di masjid beberapa bulan saja sebelum mereka melakukan kontak dengan individu yang akan mereka jebak. Begitu mereka membuat kontak, mereka biasanya membuat dialog-dialog kecil. Seperti topik terjemahan, menemukan nasyid, mencari suami/istri, atau tempat-tempat terbaik untuk menemukan makanan halal, dan sebagainya. Hal ini dilakukan untuk memperoleh kepercayaan dan agar tidak terus terang. Karena keterusterangan (yaitu berbicara tentang jihad dari hari pertama) akan memunculkan kecurigaan. Mata-mata itu kemungkinan akan melakukan pendekatan terhadap target mereka selama berbulan-bulan sebelum menyebutkan jihad, dan bahkan kemudian, mereka akan mulai dengan hal-hal kecil, dengan topik-topik seperti “apakah Anda menyukai video baru As-Sahab” atau “apa nasyid Jihad favorit anda.”

#Dua#

Anda mungkin bisa juga mendeteksi dan memberikan bendera merah kepada mata-mata dari kebohongan dan inkonsistensi. Inkonsistensi ini dapat dilihat termasuk perubahan dalam cerita, yang biasanya dielaborasi setelah anda menyadari perubahan dalam cerita mereka. Sebagai contoh, mata-mata mungkin adalah mahasiswa di sebuah universitas Amerika. Namun, anda melihat dia online atau di masjid selama jam kuliah. Ketika anda mengatakan “Saya pikir kamu di sekolah” mereka dengan cepat akan mengubah cerita mereka dengan pernyataan seperti “Saya mengambil kelas online” atau “Saya mengambil kuliah malam.” Perhatikan hal-hal kecil yang mungkin tampak tidak berarti, seperti menyebutkan anggota keluarga, pekerjaan, atau pengetahuan tentang suatu topik tertentu. Jika diketahui bahwa orang tersebut sudah melakukan suatu kebohongan, bahkan meskipun kebohongan itu kecil, maka ambillah tindakan pencegahan.

#Tiga#

Hal lain yang harus diwaspadai adalah pernyataan-pernyataan besar. Ini biasanya mencakup klaim untuk menjadi anggota suatu organisasi mujahidin, atau untuk berhubungan dengan Mujahidin atau ‘Shuyuukh’ tertentu, atau mengaku sudah tahu pribadi atau bertemu dengan berbagai pemimpin Mujahidin. Ini harus dipastikan. Siapapun yang membuat klaim ini adalah pembohong, atau jika mereka jujur, maka mereka sangat Jahil ketika mereka ingat masalah keamanan, baik bagi dirinya dan bagi para mujahidin.

#Empat#

Seorang mata-mata biasanya akan mengaku sibuk, kemungkinan besar dengan studi sekolah. Secara pribadi ia akan sering meminta maaf karena tidak bisa sering ditemukan karena sibuk dengan berbagai ujian atau harus belajar untuk ujian tengah semester atau mengerjakan pekerjaan rumah. Mata-mata menggunakan taktik ini untuk membuat diri mereka tampak normal. Ini tidak berarti bahwa seorang Mujahidin bukan selalu mahasiswa dan tidak bekerja keras dengan studi mereka. Namun, jika seseorang benar-benar ingin terlibat dalam jihad, dan Syahadah khususnya melalui misi Istisyhadi atau ‘Fidaye’, tidak mungkin fokus utama mereka adalah sekolah. Alasan sekolah ini paling sering digunakan, bukan alasan kesehatan atau pekerjaan, karena mungkin target mata-mata mungkin merasa bahwa orang yang tidak sehat tidak layak untuk jihad atau orang yang memiliki pekerjaan ikut membayar pajak adalah kolaborator. Mereka sering meminta maaf atas ketidakhadiran atau keterlambatan, bahkan pemberitahuan ini dilakukan satu atau dua hari setelah pesan anda dikirim kepada mereka, ini adalah hal yang sangat umum.

#Lima#

Mata-mata akan bertanya pada target mereka menjadi lebih “spesifik” dan “jelas.” Misalnya, jika anda mengatakan anda tertarik dalam Jihad, mereka akan bertanya apakah yang anda maksud Jihad fisik. Jika anda menyebutkan anda memiliki pengetahuan senjata api, mereka akan menanyakan senjata api jenis apa dan apa saja yang anda ketahui. Kita harus benar-benar mencermati kata-kata mereka setiap saat, atau lebih baik tidak berkata apapun. Alasan mereka mempertanyakan hal semacam ini bukan karena mereka mengerti, tetapi lebih karena jika dan ketika anda tertangkap, mereka ingin memastikan bahwa hakim akan semakin mudah menjatuhkan anda. Jika anda terus mulut Anda tertutup, maka ada kemungkinan anda bahkan tidak akan ditangkap. Mata-mata itu mungkin tidak membuat ancaman itu sendiri, tapi akan menunggu anda berbicara terlebih dahulu. Mereka ingin membuat anda membicarakan hal-hal yang lebih spesifik.

#Enam#

Dalam proses pendekatan ini, mata-mata akan selalu menerima anda. Mereka akan menerima manhaj anda dan tidak memperdebatkannya, bahkan saat mereka mengatakan manhaj tersebut berbeda dari mereka sendiri. Perilaku khas seperti merokok, mendengarkan musik, atau menempelkan foto, tidak pernah dikutuk oleh mata-mata. Mereka selalu akan menjawab pertanyaan-pertanyaan pribadi dan tidak tersinggung ketika anda bertanya, karena mereka akan menjawabnya dengan kebohongan. Jika anda kembali pada Islam dan menyebut perilaku berdosa dalam hidup anda sebelum menerima Islam, mata-mata tidak akan peduli sama sekali. Spies tidak pernah tampak marah atau tidak setuju dengan target mereka, kecuali dengan satu syarat. Kondisi ini jika mereka menemukan targetnya akan melepaskan diri dari jihad. Kemudian mata-mata akan berusaha untuk mengingatkan target mereka, biasanya dengan membawa kata-kata masa lalu mereka atau menggunakan teknik untuk membuat target mereka merasa bersalah. Hanya jika target mereka terlihat seperti menentang jihad –apakah al Qaeda maupun Jaisy Muhammad– maka mata-mata itu akan terlihat marah dan kecewa.

#Tujuh#

Tanyakan kepada diri sendiri, apakah orang yang anda percaya? Dalam dunia di mana setiap orang dapat benar-benar menjadi mata-mata, mengapa orang ini yang anda percaya? Mengapa mereka mengaku sebagai seorang mujahid, dan menceritakan ini pada orang-orang yang mereka temui melalui komputer atau di masjid-masjid? Mengapa mereka mengatakan mereka ingin melakukan operasi Jihad atau hijrah? Anda tidak bisa mengetahui apakah ada orang yang ikhlas, dan ini adalah kenyataan yang menyedihkan. Pikirkan tentang mengapa mereka akan mempercayai anda dari semua orang, dan bukan orang lain. Jawabannya adalah karena mereka sedang berusaha untuk menangkap anda, dan ini adalah bagian dari proses pendekatan mereka.

#Delapan#

Sekarang tanyakan pada diri anda, jika mereka sudah mempercayai anda, mengapa mereka membutuhkan anda? Jika mereka ingin anda untuk berhijrah dengan mereka, tanyakan pada diri anda mengapa mereka tidak pergi sendirian atau dengan orang lain. Jika mereka membutuhkan seseorang untuk melaksanakan operasi, apakah mereka menjemput anda. Jika anda melihat peristiwa dari Oregon dan belajar dari mereka, Anda akan melihat bahwa itu adalah kelompok dari orang-orang yang telah direkrut menjadi mata-mata, semoga Allah membebaskannya. Siapapun saat ini bisa bertanya kepada dirinya sendiri “jika sudah ada sekelompok saudara, dan di antara mereka ada seorang pembuat bom, mengapa mereka membutuhkan orang lain untuk mengemudikan mobil? Jika seseorang sudah mengklaim tahu bagaimana membangun bom, mengapa mereka meminta anda untuk menanamnya? Apakah karena mereka takut mati? Apakah karena mereka ingin membuat lebih banyak bom? Atau, atau mungkin, karena mereka ingin menjebak anda? Hal ini sering terjadi dalam skenario beberapa mata-mata. Jika sudah ada kelompok yang mengaku mujahidin dan menyiapkan serangan, lantas apa yang mereka butuhkan dari anda?

Jika mereka mengaku ‘Fidayeen’, mengapa mereka membutuhkan satu lagi?

Mengapa tidak merekrut lebih banyak, mengapa tidak menggunakan satu orang saja?

Mengapa mereka meminta anda untuk membantu mereka melatih jika mereka telah mengklaim memiliki pengetahuan tentang senjata api dan bahan peledak?

Mengapa mereka membutuhkan seorang kameraman, tidak bisakah salah satu dari mereka merekamnya?

Kadang-kadang ketika operasi harus dilakukan, jika anda yang diminta untuk menanam bom, tanyakan pada diri anda mengapa mereka ingin anda menanam bom mereka atau menjadi ‘Fidaye’? Dan jika mereka sudah punya rencana, kenapa mereka mempercayai anda, sedang anda adalah orang yang relatif asing untuk membantu mereka? Pertanyaan-pertanyaan harus diajukan.

#Sembilan#

Mata-mata akan berbicara dan berlatih berlebihan. Kebanyakan operasi, terutama operasi istisyhadi, tidak perlu latihan berbulan-bulan, tetapi mata-mata akan membuatnya tampak seolah-olah harus seperti itu. Perhatikan juga mata-mata akan meminta untuk dilatih menggunakan properti dan senjata api yang anda miliki. Jenis operasi biasanya tidak memerlukan perencanaan seperti yang ditentukan oleh mata-mata. Alasan pertama mereka untuk melakukan hal ini adalah untuk mendapatkan kepercayaan anda. Dan alasan kedua adalah pada akhirnya menunda operasi itu sendiri. Berkaitan dengan berbicara yang berlebihan, lakukanlah metode pencegahan yang kelima. Mata-mata ingin anda melakukan semua mereka bicarakan. Mereka biasanya akan meminta ide dan masukan anda. Mereka akan menanyakan apa yang anda pikirkan dan akan menjadi sasaran yang cocok. Mereka ingin anda mengatakan anda ingin menjadi pelaku istisyhadi atau anda ingin berusaha untuk membunuh orang lain. Ingat, diam adalah emas.

#Sepuluh#

Akhirnya, jika Anda menduga bahwa anda telah jatuh ke dalam mata-mata, ada tindakan yang harus diambil. Pastinya, anda harus memotong semua kontak dengan orang yang anda dicurigai mata-mata. Namun, sebelumnya mungkin bermanfaat untuk berpura-pura memberitahu mereka bahwa anda sebenarnya telah kecewa dengan Jihad. Bahkan mungkin bijak untuk mengklaim bahwa anda telah kehilangan minat dalam Islam! Berbohong, berbohong, berbohong! Ingat, mata-matalah yang anda ajak bicara. Setelah itu, mungkin lebih baik untuk menghilang. Tidak perlu memberikan alasan, atau mereka mungkin akan menggunakan alasan seperti istrinya hamil atau mereka yang pindah untuk membuat mereka tetap menghubungi anda. Mungkin bijaksana untuk mengubah nama pada forum atau mengganti email. Juga penting, jika mungkin, jangan biarkan orang ini tahu bahwa anda menyadari mereka adalah mata-mata. Jika tidak, mereka mungkin menyadari bahwa anda berbohong kepada mereka, dan masih akan terus menyelidiki anda. Dan terakhir, memperingatkan orang lain yang mungkin telah jatuh menjadi korban mata-mata, dan mengungkapkan kepada mereka metode yang bisa digunakan oleh mata-mata.

Saya memohon agar Allah menerima semua amal ibadah saya dan menjadikan informasi ini bermanfaat bagi saudara-saudara yang lainnya, insyaAllah.

Saudaramu dalam Islam

Sumber: Theunjustmedia diterjemahkan oleh Althaf, redaktur pelaksana arrahmah.com

http://arrahmah.com/index.php/blog/read/10501/10-metode-mendeteksi-dan-menggagalkan-rencana-mata-mata

HUKUM ZINA

“ (Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya. Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin

Sebab turunnya ayat

Diriwayatkan diberbagai sebab mengenai turunnya ayat

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik…”

Yang dibawakan oleh kaum mufassirin, dan yang kami nukilkan di sini dari beberapa penjelasan, yaitu yang terlengkap dan shaih. Sebagai berikut:

1. diriwayatkan bahwasannya seorang laki-laki, bernama Martsad Alghanawi, pekerjaannya membawa orang-orang tawanan dari Mekkah sampai ke Madinah. Di Mekkah ada seorang perempuan pelacur bernama anaq yang semula adalah teman Martsad. Martsad telah menjanjikan seorang  tawanan di Mekkah untuk membawanya ke Madinah. Martsad  bercerita. “saya dating hingga ke tempat teduh di bawah salah satu dinding dari dinding-dinding Mekkah pada suatu malamterang bulan. Anaq lalu dating dan ia melihat hitam baying-bayanganku di bawah dinding itu ketika sampai ia kepadaku ia mengenaliku dan bertanya: “Martsad?” Aku menjawab: “Ya, aku Martsad,” Ia berkata: “Selamat dating. Mari, bermalamlah di rumahku.” Mendengar jawabanku itu, ia lalu berseru: “Hai para penghuni kaimah-kaimah, inilah orang laki-laki yang selalu membawa tawanan-tawananmu.”  Martsad meneruskan ceritanya: “Maka aku di ikuti oleh delapan orang dari mereka, hingga aku sampai di suatu gua. Para pengejarku sampai pula di gua itu dan berdiri tepat di atas kepalaku, lalu berkemih dan air kemih mereka membasahi kepalaku, namun Allah swt. menjadikan mereka tidak melihatku. Kemudian mereka kembali, dan aku pun kembali kepada kawanku (tawanan yang  hendak kularikan itu) dan aku membawannya sampai aku tiba di Madinah. Aku dating kepada Rasulullah saw. dan bertanya: ya Rasulullah, apakah sebaiknya aku mengawini anaq?” Rasulullah berdiam diri, tidak mengucapkan sekata pun. Lalu Allah menurunkan “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik…”

Rasulullah membacakannya kepadaku, lalu berkata: “Martsad, janganlah mengawaininya.” Diriwayatkan oleh Alhaki dan atturmudzi dari Amr bin Syu’aib dari kakeknya. Dibawakan oleh Assayuthi dalam Tafsirnya “ Addurul-Mantsur”

2. diriwayatkan bahwa ayat tersebut diturunkan sehubungnan Ahli Shuffah, yakni segolongan kaum muhajirin, yang di Madinah tidak mempunyai tempat tinggal ataupun keluarga, lalu mereka menempati serambi masjid. Mereka berjumlah empat ratus orang. Pada siang hari mereka mencari rezeki dan pada alam hari bermalam di Dhuffah (serambi masjid). Pada waktu itu dikota Madinah terdpat banyak pelacur yang melakukan kecabulan dengan terang-terangan dan yang bermewah-mewahan dalam berpakaina dan dalam makan-minum. Beberapa orang dari Ahli Shuffah berkeinginan untuk kawin dengan pelacur-pelacur itu, supaya mereka dapat bertempat tinggal di rumah-rumah perempuan-perempuan itu dan dapat memperoleh makan-minum dari mereka. Lalu turunlah ayat; “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik…”Alqurtubi, jilid 12 hal. 168

POKOK-POKOK HUKUM

Hokum pertama

Bagaimanakah bentuk hukuman zina pada permulaan Islam?

Bentuk hukuman zina pada permulaan islam adalah ringan dan bersifat temporer, sebaba kaum muslimin pada waktu itu belum lama meninggalkan kehidupan jahiliah nya, sedang sunnatullah dalam mensyariatkan hokum-hukum ialah dengan cara membawa manusia ke jalan berangsur-angsur itu dapat berhasil dengan efektif, serta lebih mantap dalam penerapannya dan lebiih licin masuk ke dalam hati dan jiwa untuk menerima syariat Allah dengan rasa rela dan hati tentram. Sebagaimana kita saksikan mengenai masalah pengharaman khamar, riba, dan hukum-hukum syariat lainnya.

Adapun bentuk hukum zina pada masa permulaaan Islam ialah seperti yang Allah kisahkan kepada kita dalam surat An-Nisa (ayat 15-16 yakni firmanNya)

“Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji [275], hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya. Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Maka (menurut ayat-ayat tersebut) hukuman terhadap seseorang perempuan yang berzina ialah hukuman kurungan dalam rumah dan larangan keluar rumah, sedang terhadap laki-laki hukumannya ia cerca dan celaan keras dengan ucapan.

Kemudian hukuman tersebut dinasakh dengan firman Allah: “Perempuan yang berzina dan laki-laki berzina deralah masing-masing dari mereka seratus kali”. Rupanya tindakan tersebut dalam ayat 14 surat An-Nisa yang disyariatkan pada masa permulaan Islam adalah hanyalah tindakan dalam bentuk hukuman fisik, hal mana terbukti dari ketentuan batas waktu bagi habisnya hukuman yang harus dijalani itu, yaitu yang tersebut dalah firman Allah swt.

sampai mereka menemui ajalnya atau sampai Allah memberi jalan lain kepada merek). Hukuman ini kemudia diganti dengan hukuman lain yang lebih berat, yaitu hukuman dera bagi pelaku-pelaku yang belum pernah kawin (perawan dan jejaka) dan hokum rajam atas pezina yang sudah kawin. Maka dengan demikian berakhirlah bentuk hokum yang sifatnya sementara itu (ayat 15 Surat An-Nisa) untuk menggantikan dengan hukuman yang keras dan berat itu.

Diriwayatkan dari  Ubadah bin Shamat ra. Bahwasannya ia berkata: “Nabi Saw. apabila turun kepadanya wahyu kelihatan beliau seperti orang yang tertimpa duka dan roman muka beliau berubah. Pada suatu hari Allah menurunkan wahyu kepada beliau dan beliau mengalami hal yang sama. Setelah sadar kembali beliau bersabda: “Ambillah dariku, ambillah dariku. Allah telah memberi jalan bagi  wanita-wanita (yang berzina) itu: perzinaan antara perawan dan jejaka hukumnya seratus dera dan pengasingan selama setahun : perzinaan antara balu dan balu (janda dan duda) hukumnya seratus dera dan rajam” Diriwayatkan oleh Muslim. Abu Dawud dan Atturmudzi.

Hukum kedua

Apakah hukuman yang dikenakan terhadap pezina yang belum kawain dan yang sudah kawin?

Syariat Islam membedakan dalam maslaah hukuman zina terhadap orang yang belum/tidak kawin dan orang yang kawin. Terhadap yang pertama hukuman itu diringankan dan ditetapkan menjadi seratus kali dera. Sedang terhadap  yang kedua hukuman itu diperkeras berupa “rajam sampai mati”. Hal ini karena dalam pandangan Islam kejahatan perbuatan zina oleh orang yang sudah kawin adalah lebih berat daripada pelacuran biasa. Hubungan seks yang dilakukan oleh laki-laki yang beristri dengan perempuan yang mempunyai suami dengan jalan zina adalah lebih keji dan buruk dari pada kalau perbuatan itu dilakukan dengan orang yang belum/tidak kawin. Pezina yang dilakukan dengan perempuan yang mempunyai suami menyebabkan rusaknya keturunan orang lain (yaitu suami perempuan itu) serta menodai kesucian tempat tidurnya. Sedang laki-laki yang menzinai itu untuk melampiaskan nafsu syahwatnya, telah menempuh jalan yang tidak sah, padahal ia dapat melampiaskan syahwatnya itu dengan jalan yang sah. Oleh sebab itu maka hukumannya lebih berat dank eras.

Hukuman dera positif berdasarkan nas Al-Qur’an

Hukuman dera secara positif bersdasarkan nas Al-Qur’an yang tak dapat dibantah, yaitu firman Allah : “Perempuan yang berzina dan laki-laki berzina deralah masing-masing dari mereka seratus kali”. Ayat ini berhubungan dengan pezina yang tidak bersuami/beristri. Ayat ini. Sekalipun mempunyai sifat umum, yaitu menyangkut setiap pezina, namun hadits Nabi saw. telah  menerangkan dan menjelaskan hukuman itu, sebagaimana tersebut dalam hadits yang diriwayatkan dari Ubadah  bin Shamit, tersebut di muka. Memang tugas Rasulullah saw. adalah memberikan penjelasan kepada manusia, sebagaimana difirmankan Allah swt. “Agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang diturunkan kepada mereka”—(surat An-Nahl 44) kiranya cukuplah apa yang dijelaskan dan diterangkan Rasulullah saw. menjadi suatu pemerincian dan penegasan tentang pa yang tercantum secara global dalam Al-Qur’an.

Hukuman rajam positif berdasarkan hadits-hadits nabawi yang mutawatir.

Adapun berkenaan dengan “rajam”. Hukuman ini secara positif validitasnya dibuktikan oleh perbuatan. Sabda dan amalan Nabi saw. dan pula menurut ijma’ para sahabat dan tabi’in. Dengan hadits-hadits yang shaih yang kebenarannya tak diragukan lagi dan dengan jalan tawatur telah terbukti dengan positif bahwasannya nabi saw. melaksanakan hukuman rajam terhadap beberapa sahabat. Seperti terhadap Ma’iz dan Alghamidiah dan bahwasannya para khulafa Arrasyidin, sewafat Nabi menegakan pula hukum ini di zaman mereka, bahkan mereka mengumumkan bahwa rajam adalah hukuman perbuatan zina terhadap pelakunya yang telah kawin.

Selanjutnya para ulama fiqih Islam di setiap zaman dan di setiap tempat tetap bersepakat pendapat dengan ijma’ bahwa hukuman rajam adalah suatu hukum yang tetap, serta suatu sunnah Nabi yang harus di ikuti dan suatu syariat Ilahi yang positif, didukung oleh bukti-bukti yang saling memperkuat dan menunjang, sehingga tiada tempat bagi keraguan dan kesangsian mengenai keabsahannya. Hukum ini tetap berlaku sampai zaman kita ini dan tiada seorang pun yang menentangnya, selain suatu golongan eksentrik yang telah menyimpang dari ajaran Islam, yaitu golongan khawarij yang mengatakan bahawa hukuman rajam tidak disyariatkan.

Dari kitab Tafsir ayat-ayat hukum dalam Al-Qur’an jilid 2 hal.26 terjemahan Indonesia. PT.Al-Ma’arif Bandung.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.